Tampilkan postingan dengan label Masa Subur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masa Subur. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Mei 2014

Menentukan Masa Subur dengan Metode Sympto Thermal

Agar lebih akurat dalam menentukan masa subur, kita bisa saja menggabungkan bermacam-macam metode.
Dalam hal ini, kita menggabungkan 2 metode yaitu dengan metode suhu tubuh basal dan metode lendir serviks.
Caranya, selain setiap pagi kita mengukur suhu tubuh kita (per rectal), setelah bangun dari tidur, kita juga mengecek jenis lendir yang keluar dari tubuh kita (per vaginam). Dari 2 hasil tadi kita gabungkan. Artinya, saat lendir yang keluar sudah menunjukkan tanda-tanda ovulasi maka kita sudah bisa memulai melakukan hubungan seksual sampai saat pengukuran dari suhu tubuh basal emnunjukkan tanda ovulasi. Begitu pun sebaliknya, saat suhu tubuh basal sudah mennjukkan ovulasi, kita bisa memulai melakukan hubungan seksual hingga lendir yang keluar menunjukkan tanda ovulasi.

Biasanya, jarak antara tanda-tanda suhu tubuh basal dengan tanda-tanda lendir tidaklah lama.

Menentukan Masa Subur dengan Metode Lendir Serviks

Penentuan metode ini didasarkan pada perubahan siklis dari lendir yang keluar dari organ kewanitaan bagian dalam seorang wanita yang terjadi karena perubahan kadar hormon estrogen.
Pada metode ini dibutuhkan keahlian yang cukup untuk mengetahui sifat lendir dengan benar yang kemudian dicocokkan dengan catatan yang ada
Berikut adalah macam dan ciri-ciri lendir serviks yang keluar semala 1 siklus menstruasi (±30 hari)
1.       fase menstruasi
Pada fase ini, lendir yang keluar bersamaan dengan keluarnya darah menstruasi. Sehingga tidak nampak adanya lendir yang keluar.
Lamanya fase ini tergantung dari lamanya darah menstruasi yang keluar. Rata-rata wanita antara 7-14 hari.

2.       fase pasca mantruasi
Pada fase ini, biasanya wanita merasakan kering di daerah kewanitaan. Biasanya lendir yang keluar sedikit atau tidak keluar sama sekali. Ada beberapa wanita yang sudah merasakan lembab hal ini mungkin disebabkan karena hormon progesterone dalam diri wanita tersebut tinggi sehingga lendir yang dihasilkan lebih banyak dari wanita kebanyakan. Namun, hal ini jangan menjadikan bingung. Tetap perhatikan ciri-ciri lendir yang keluar.
Lamanya fase ini ± 3 hari setelah menstruasi.
3.       fase pra ovulasi
Pada fase pra ovulasi, wanita sudah mulai merasa lembab di daerah kewanitaan karena lendir sudah mulai terbentuk.
Ciri-ciri lendir yang keluar :
Keruh, kuning atau putih dan liat
Sekalipun lendir yang keluar kuning atau putih, jangan lantas menjadikan khawatir akan tanda-tanda keputihan  yang abnormal. Tetap jaga kebersihan daerah kewanitaan dan perhatikan apakah terasa gatal yang mengganggu hingga timbulnya bau tak sedap yang tercium oleh orang lain yang berpapasan. Selama tidak ada 2 tanda tersebut, kemungkinan lendir yang keluar adalah normal
Saat keluar lendir seperti ini, seorang wanita harus mulai lebih memperhatikan ciri-ciri lendir yang keluar. Karena sebentar lagi lendir akan berubah menjadi lendir ovulasi.
Lamanya fase ini ± 3 hari.
4.       fase ovulasi
Jika lendir yang keluar bersifat : JERNIH, LICIN, BASAH, DAPAT DIREGANGKAN SEPERTI INGUS ATAU SEPERTI PUTIH TELUR.
Maka, kemungkinan wanita tersebut berada pada saat : segera sebelum ovulasi, tepat pada saat ovulasi atau sesaat setelah ovulasi.
Fase ini hanya terjadi 1 hari, karena daya hidup telur setelah keluar dari corpus luteum hanya sehari. Pada saat-saat seperti ini sebaiknya lakukanlah hubungan seksual bagi Anda yang menginginkan keturunan. Karena ini merupakan masa-masa paling subur.
5.       fase pasca ovulasi
Hari berikutnya, setelah ovulasi merupakan fase post atau pasca ovulasi yang biasanya terjadi ± 4 hari.
Lendir yang keluar memiliki ciri-ciri yang keruh, liat dan biasanya berjumlah sedikit. Namun, wanita tetap merasakan lembab di daerah kewanitaan.
6.       fase pra haid

saat lendir yang dihasilkan jernis dan cair seperti cair, sehingga membuat perasaan wanita basah di daerah kewanitaan merupakan tanda-tanda bahwa wanita tersebut segera memasuki masa menstruasi. Hal ini terjadi hingga seorang wanita mengalami menstruasi pada bulan berikutnya. 

Menentukan Masa Subur Dengan Metode Suhu Badan Basal (Termal)

Menurut saya, metode ini sangat besar kegagalannya. Karena terkadang seseorang tidak bisa membedakan kenaikan suhu tubuh yang disebabkan ovulasi dengan kecapean. Pada dasarnya, saat terjadi ovulasi tubuh seseorang mengalami peningkatan 0,2 °C – 0,5 °C. peninggian suhu tubuh akan kembali normal pada hari ke-2 setelah ovulasi.
Alat yang dibutuhkan :
1.      Thermometer digital agar lebih akurat kenaikan suhunya(sebaiknya thermometer rectal/anus atau thermometer vaginal)
2.      Buku strimin
3.      Penggaris
4.      Pulpen atau pinsil
Teknik mengumpulkan data:
1.      Gambar koordinat x dan y pada buku strimin dengan penggaris dan pulpen atau pinsil
2.      Pada koordinat x adalah hari saat pemeriksaan
3.      Pada koordinat y adalah suhu hasil pemeriksaan
4.      Catat setiap hasil suhu yang diukur pada tubuh
5.      Masukkan ke dalam gambar yang dibuat
6.      Buat grafik (hubungkan titik-titik menjadi garis)
Teknik mengukur suhu badan basal :
1.      Ukurlah suhu tubuh pada pagi hari saat baru bangun tidursebelum makan dan minum dan sebelum beraktivitas bahkan sebelum kaki menginjak lantai
2.      Waktu pengukuran pada jam yang sama setiap pagi dan sebaiknya pada malam harinya sudah tidur nyenyak ± 5 jam
3.      Ukur suhu tubuh per vaginal tapi lebih baik per rectal (anus)
4.      Tunggu sampai thermometer berbunyi
Kesimpulan :
1.      Saat terjadi ovulasi, akan terjadi kenaikan suhu tubuh sekitar 0,2 °C – 0,5 °C
2.      Sehari sebelum ovulasi, biasanya terjadi penurunan suhu tubuh beberapa derajat
3.      Ada kalanya terjadi peninggatan suhu tubuh perlahan-lahan, namun saat setelah ovulasi tubuh akan mengalami penurunan
Factor yang mempengaruhi suhu tubuh basal :
1.      Influenza
2.      Inflamasi atau peradangan di anus
3.      Terjadi mimpi burukjam tidur yang irregular
4.      Pemakaian selimut elektrik

Contoh grafik :

keterangan :
·         pada hari pertama menunjukkan suhu tubuh normal manusia
·         Pada hati kedua menunjukkan suhu tubuh mengalamai penurunan
·         Pada hari ketiga suhu tubuh mengalami kenaikan yang drastis yaitu 0,5°C ini merupakan tanda terjadinya ovulasi (berarti dalam 24 jam kedepan ovum atau sel telur hidup)
·         Pada hari keempat menunjukkan terjadinya penurunan  suhu ke posisi semula (normal


Senin, 12 Mei 2014

Menentukan Masa Subur Dengan Metode Kalender

Menentukan Masa Subur Dengan Metode Kalender
Menurut saya, metode kalender merupakan metode yang paling mudah untuk dijelaskan pada masyarakat umum. Karena tidak emmbutuhkan keahlian khusus untuk mengenali tanda-tanda nya. Namun, metode ini harus dilakukan dengan pengamatan lamanya siklus menstruasi selama minimal 6 bulan hingga 12 bulan untuk mengetahui masa suburnya.
Metode ini, awalnya ditemukan oleh Kyusaku Ogino di jepang yang mengemukakan bahwa : ovulasi dapat terjadi pada 12 – 16 hari sebelum menstruasi yang akan datang
Temuan lainnya dikemukakan oleh Herman Knaus yang menyatakan bahwa ovulasi selalu terjadi 14 hari sebelum menstruasi yang akan datang.
Dari 2 temuan ini, akhirnya ditemukan rumus untuk menentukan masa subur :
Siklus terpendek – (dikurangi) 18 = awal masa subur
Siklus terpanjang – (dikurangi) 11 = akhir masa subur
Keterangan :
Siklus terpendek didapatkan dari semua siklus yang sudah dicatat selama 12 bulan. Dan siklus yang terkecil merupakan siklus terpendek
Siklus terpanjang didapatkan dari semua siklus yang sudah dicatat selama 12 bulan. Dan siklus yang terbesar merupakan siklus terpanjang

Angka 18 diperoleh dari :
14 (perkiraan masa ovulasi) + 2 * + 2 (masa hidup sperma di dalam rahim) = 18

Sedangkan Angka 11 diperoleh dari :
14 (perkiraan masa ovulasi) - 2 * + 1 (masa hidup sel telur) = 11

* ) arti : {karena menurut Ogio ovulasi manusia terjadi 14 ± 2hari atau pada hari ke 12 – 16 sebelum menstruasi berikutnya (artinya, ovulasi wanita bisa terjadi 14 – 2 = 12 hari sebelum menstruasi berikutnya, atau 14 + 2 = 16 hari sebelum menstruasi berikutnya)}

Contoh penerapan :
1)      Seorang wanita bernama X mencatat tanggal pertama menstruasi sebagai berikut :
a)      Bulan januari menstruasi tanggal 5
b)      Bulan februari menstruasi tanggal 7 (tahun itu adalah tahun kabisat dimana lamanya bulan februari = 29 hari)
c)       Bulan maret menstruasi tanggal 5
d)      Bulan april menstruasi tanggal 10
e)      Bulan mei menstruasi tanggal 8
f)       Bulan juni menstruasi tanggal 10
g)      Bulan juli menstruasi tanggal 10
h)      Bulan agustus menstruasi tanggal 2
i)        Bulan September menstruasi tanggal 5
j)        Bulan oktober menstruasi tanggal 3
k)      Bulan November menstruasi tanggal 5
l)        Bulan desember menstruasi tanggal 3
2)      Hal pertama yang dilakukan adalah menentukan lamanya siklus selama 1 tahun, dengan cara :
a)      Dari tanggal 5 januari hinggal 7 februari, lamanya siklus = 33 hari (tanggal 5 dihitung tanggal 7 tidak dihitung)
b)     Dari tanggal 7 februari hingga 5 maret, lamanya siklus = 26 hari (tanggal 7 dihitung tanggal 5 tidak dihitung)
c)     Dari tanggal 5 maret hingga 10 april, lamanya siklus = 36 hari (9tanggal 5 dihitung tanggal 10 tidak dihitung)
d)    Dari tanggal 10 april hingga 8 mei, lamanya siklus = 28 hari (tanggal 10 dihitung tanggal 8 tidak dihitung)
e)    Dari tanggal 8 mei hingga 10 juni, lamanya siklus = 33 hari (tanggal 8 dihitung tanggal 10 tidak dihitung)
f)        Dari tanggal 10 juni hingga 10 juli, lamanya siklus = 30 hari (tanggal 10 juni dihitung tanggal 10 juli tidak dihitung)
g)      Dari tanggal 10 juli hingga 2 agustus, lamanya siklus = 23 hari (tanggal 10 dihitung tanggal 2 tidak dihitung)
h)     Dari tanggal 2 agustus hingga 5 september, lamanya siklus = 34 hari (tanggal 2 dihitung tanggal 5 tidak dihitung)
i)      Dari tanggal 5 september hingga tanggal 3 oktober, lamanya siklus = 28 hari (tanggal 5 dihitung tanggal 3 tidak dihitung)
j)       Dari tanggal 3 oktober hingga tanggal 5 november, lamanya siklus = 33 hari (tanggal 3 dihitung tanggal 5 tidak dihitung)
k)         Dari tangga 5 november hingga 3 desember, lamanya siklus = 28 hari (tanggal 5 dihitung tanggal 3 tidak dihitung)
3)      siklus yang jumlahnya paling sedikit adalah siklus terpendek, dalam kasus ini adalah 23 hari
4)      siklus yang jumlahnya  paling banyak adalah siklus terpanjang, dalam kasus ini adalah 36 hari
5)      siklus terpendek – (dikurangi) 18 = 23 – 18 = 5
6)      siklus terpanjang – (dikurangi) 11 = 36 – 11 = 25
7)    dari jumlah itu dapat disimpulkan bahwa perkiraan masa subur dapat terjadi pada hari ke 5 sampai hari ke 25 siklus menstruasi
8)      jika pada bulan januari tahun berikutnya menstruasi terjadi pada tanggal 2, maka kemungkinan masa subur adalah antara tanggal :
tanggal 2 + hari ke 5 = tanggal 7
tanggal 2 + hari ke 25 = tanggal 27
antara tanggal 7 – 27 diharapkan pasangan melakukan hubungan 2 hari sekali, pada jam-jam yang hampir sama

Menentukan Masa Subur

Untuk mengetahui masa subur, ki9ta harus mengetahui saat dimana wanita mengalami ovulasi karena kehamilan hanya akan terjadi saat hubungan suami istri terjadi pada masa ini. Sedangkan ovulasi sendiri terjadi pada hari ke-14 sebelum mentruasi bulan berikutnya. jadi, cara menghitung masa subur bukan dari hari pertama menstruasi yang lalu, namun 14 hari dari menstruasi yang akan datang. Untuk wanita yang memiliki siklus menstruasi teratur, akan mudah menghitung masa suburnya. Misalnya seorang memiliki siklus menstruasi 28 hari. Artinya jika tanggal 9 bulan ini (misal April) wanita tersebut menstrusi, maka 28 hari sejak tanggal 9 April dia akan menstruasi lagi yaitu tanggal 8 Mei (April = 30 hari). Jadi, ovulasi terjadi pada hari ke 14 sebelum tanggal 8 mei yaitu tanggal 23 April.
Namun, sebagian wanita mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur dan tidak semua wanita memiliki siklus 28 hari. Untuk itu, dibutuhkan cara lain untuk mengetahui masa subur perempuan.
Ada 4 cara untuk mengetahui masa subur seorang wanita, yaitu :
1.      Metode kalender yaitu dengan menentukan waktu ovulasi dari data menstruasi yang dicatat selama 6 – 12 bulan terakhir.
2.      Metode suhu badan basal (termal) yaitu menentukan waktu ovulasi dengan memriksa suhu tubuh saat bangun tidur dan dicatat setiap harinya selama 1 bulan sejak menstruasi pertama
3.      Metode lendir serviks yaitu menentukan waktu ovulasi dengan memperhatikan perubahan siklis yang terjadi pada lendir setiap harinya
4.      Metode symto termal yaitu mengkombinasikan antara metode termal dengan lendir servik untuk mengetahui terjadinya ovulasi

Ke-4 cara ini akan dibahas lebih rici pada postingan berikutnya.
Terima ksih karena telah berkunjung